🛷 Cerita Silat Jawa Mataram
Selainkarya-karya yang termuat di artikel ini, masih terdapat karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo lain yang merupakan karangan-karangan lepas (satu judul/kisah tamat) baik berlatar belakang Tionghoa maupun Jawa seperti serial Pecut Sakti Bajrakirana dan serial Badai Laut Selatan yang berlatarbelakang masa Kesultanan Mataram Islam dan zaman Airlangga.
CeritaSilat Jawa " BENDE Mataram ", SEMARANG. ८२७ लाइक · १ जना यसको बारेमा कुरा गर्दैछन्. Cerita silat favorit taun 1965 an
OlehKustri Sumiyardana Di Indonesia dikenal ada cerita yang memuat cerita silat. Cerita itu mengisahkan perjalanan tokoh utama yang mahir dalam bela diri atau silat. Biasanya, tokoh utama menggunakan kemahirannya untuk menumpas kejahatan. Bibit-bibit cerita silat sudah lama berada di Indonesia. Cerita silat identik dengan laga, peperangan, atau perkelahian. Sejak Jawa Kuno sudah muncul []
prestasiyang telah diraih perguruan pencak silat sawunggaling : sea games indonesia th 2010-2011 m .ichsan nur romadhon juara iii( perunggu) pekan olah raga mahasiswa asean chiang may -thailand 2010-2011 m ichsan nur romadhon juara i( emas ) pekan olah raga pelajar se asia indonesia 2011-2012 sarah tria monita juara iii (perunggu) pekan olah raga mahasiswa nasional palembang 2009-2010 m
Search Cerita Silat Penginapan Pintu Naga. Benar saja, pintu itupun berderit-derit dan terkesan susah untuk bergerak Perjanjian Dengan Roh 144 Cerita Silat : Pendekar Super Sakti [Kho Ping Ho] 7, Gudang Cersil [Cerita Silat], Cerita Silat : Pendekar Super Sakti [Kho Ping Ho] 7 Pertarungan Pendekar Mabuk Titisan Ilmu Setan Lentera Kematian Rahasia Download Lengkap Cerita Silat Cersil Terbaru
assalamualaikum.mngikut apa yg aq dgar silat Nasrul Haq ni dah dibubarkan oleh JAKIM atas alasan ianye tidak lagi mengikut ajaran islam.mengikut cerita yang aq dengar lagi silat ini sangat popular pada ketika itu sehinggakan mempunyai penyertaan seramai lebih 2000 nak persoalkan kenape JAKIM mengharamkan silat tersebut padahal pada pandangan orang orang lame silat ini
Semasahidupnya, SH Mintardja lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita bersambung cerita silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Kedaulatan Rakyat.Episode terakhir yang hadir di hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.
BanjirDarah di Borobudur Jilid 01. 9 minute read. Kisah ini terjadi pada waktu agama Hindu dan Agama Budha berkembang luas, dan berpengaruh serta berkuasa di pulau jawa. Seribu tahun lebih yang lalu kedua agama ini yang datangnya dari India, membawa kebudayaan yang tinggi kepada rakyat di Pulau Jawa. Betapapun besar dan hebat pengaruh agama
KhoPing Hoo. Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo (juga dieja Kho Ping Ho, Hanzi: 許平和; pinyin: Xǔ Pínghé, 17 Agustus 1926 - 22 Juli 1994) adalah penulis cersil ( cerita silat) yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa
PoBwvZ. Dalam pada itu berangkatlah sepasukan prajurit segelar sepapan. Yang dipimpin langsung oleh Raden Pamekas dan Ki Lurah Rangga Jati. Pasukan itu bergerak saat dini hari, agar saat fajar menyingsing mereka bisa langsung menggempur sasaran mereka di Padepokan Watu Belah, Alas Mentaok. Mereka bergerak dari alun-alun Pajang menuju Prambanan, kemudian melintasi Kali Opak, setelah itu baru masuk kawasan Alas Mentaok. Linggar dan Wurpasa tidak dalam satu pasukan melainkan memisahkan diri untuk melihat keadaan yang akan dilalui iring-iringan prajurit tersebut. Walaupun iring-iringan itu bergerak pada saat orang-orang sedang lelap tertidur, tetapi derap langkah kaki kuda para prajurit itu tetap saja membangunkan orang-orang yang rumahnya berada disepanjang jalan menuju Prambanan. Sebagian dari mereka ada yang tetap saja tidur mendengkur, tetapi sebagian lagi ada yang pula mengintip dari celah bilik rumahnya dengan jantung berdebaran. Suara ayam jantan tersamar dengan suara derap kuda sepasukan prajurit Pajang. Suaranya mendebarkan jantung orang yang bermukim di sepanjang jalan utama Wilayah kadipaten Pajang itu. “Tahta memang terlah membuat orang lupa diri, Nyi. Dan karena tahta pula orang saling benci dan mendendam. Seharusnya itu tidak perlu terjadi, kalau kita semua saling bercermin pada diri kita sendiri,” kata seorang kakek tua. Yang mengintip dari bilik kamarnya. “Sudahlah Ki.., tidak perlu ikut-ikutan mengurusi Wahyu Keraton itu. Siapa yang berhak diantara mereka, Arya Jipang atau Karebet itu, aku sudah tidak peduli lagi. Yang jelas sekarang kita istirahat saja. Karena esok kita harus mencari nafkah lagi untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari. Jadi tidak perlu bagi kita untuk mengurusi gegayuhan dari para bangsawan tanah Jawa itu, “berkata seorang nenek dari pembaringannya. Kemudian menarik selimut dengan malasnya. Hingga akhirnya suara gemuruh kuda itu, derapnya pun berangsur-angsur mulai tak terdengar lagi. Barulah kakek yang mengintip tadi kembali lagi ke ranjang tidurnya menemani isterinya. Derap kuda itu mengantarkan sepasukan prajurit itu melintasi Prambanan dan Kali Opak. Setelah beristirahat sejenak di tepian Kali Opak yang jernih itu, barulah mereka berangkat lagi. Suasana berganti tegang ketika fajar tiba di Alas Mentaok. Sementara Linggar dan Wurpasa telah terlebih dahulu berada didekat pintu masuk Padepokan Watu Belah. Belum sempat mereka berdua mengatur napas, dari balik bongkahan batu belah itu muncul sepuluh orang dari padepokan Watu Belah. “Kalian berdua mau cari mati rupanya?” berkata salah seorang dari mereka yang bermata cekung. “Minggirlah!” kata Linggar. Aku tak ingin melukai kalian dengan pedangku. Aku hanya ingin menangkap orang yang menyebut dirinya Pangeran Pujapati itu!” “Kurang ajar! Pastilah kalian orang-orang Pajang. Betapa sombongnya kalian berniat menangkap pimpinan kami, apa kalian sudah bosan hidup?” kata orang yang bermata cekung tadi. Linggar tak menjawab, begitupun Wurpasa yang telah menghunus pedangnya. Linggar sendiri kemudian menarik sepasang pedangnya dari lambungnya. Dua bilah pedang tipisnya berkilap diterpa cahaya mentari pagi itu. Orang bermata cekung tadi langsung merangsek ke depan bersama sembilan orang lainnya. Mereka langsung mengepung kedua telik sandi dari Pajang itu. “Apa boleh buat, Wurpasa. Kehadiran kita sudah mereka ketahui.” “Tetapi jumlah mereka terlalu banyak Linggar,” sahut Wurpasa. “Rapatkan punggungmu pada punggungku. Kita hanya tinggal menahan mereka beberapa saat, sebentar lagi kawan-kawan kita akan datang membantu,” kata Linggar. Terjadilah pertempuran yang tidak sebanding kemudian. Sepasang pedang Linggar berkelebat membendung tebasan pedang dan tusukan tombak lawan. Wurpasa sendiri tak kalah gesit. Meskipun harus melawan jumlah yang tidak sebanding, tetapi dengan memusatkan pikiran pada serangan lawan, ia mampu bertahan. “Kurang ajar!” kata orang yang bermata cekung tadi. “Jangan beri kesempatan dua penyusup ini mengamati keadaan! Serang dengan cepat.” Mendengar perintah itu, semua anak buahnya langsung mendesak Linggar dan Wurpasa. Linggar yang tak ingin dikuasai lawan, langsung mendesak lawan. Dengan dua pedangnya dia mematahkan sabetan dan tusukan senjata lawan. Baru kemudian setelah ia melewati dua musuh didepannya, gagang pedangnya dipegang terbalik sejajar dengan dua lengannya. Lalu pedang itu ia gerakkan setengah putaran kesamping. Akibatnya, pedang tipisnya mampu melukai dada dua lawannya. Dada kedua musuhnya itu mengeluarkan darah. Dua orang itu pun surut memeganggi dadanya yang terluka. Pimpinan mereka yang bermata cekung pun dibuat terkesima dengan permainan pedang Linggar. Tetapi ketakjubannya itu tidak berlangsung lama, karena Linggar kembali mendesaknya untuk mempengaruhi ketahanan jiwa lawan. Orang bermata cekung itu pun tidak tinggal diam. Dengan pedangnya ia menepis pedang Linggar yang bergerak cepat menebas dan menusuk. Tetapi ternyata ia bukanlah lawan yang sepadan bagi Linggar. Kendati pun anak buahnya membantu serangannya, tetapi Linggar paham betul menilai keadaan. Akhirnya ketika Linggar membenturkan pedangnya, pedang milik orang yang bermata cekung itu tergetar hebat dan patah dibagian tengahnya. Kejadian itu membuat pimpinan Padepokan Watu Belah itu terkesima. Linggar pun memanfaatkan keadaan lawan itu dengan menendang lambung lawannya dengan kaki kanannya. Disusul dengan kaki kirinya setelah memutar balik tubuhnya. Orang bermata cekung itu pun terhuyung-huyung terdorong kebelakang, lalu jatuh terduduk di tanah. Dengan cepat Linggar menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Sungguh suatu gerakan yang cepat dan tak terduga-duga. “Perintahkan orang-orangmu menyingkir! Sebelum aku jadi hilang kesabaran!” Linggar mengancam. Orang itu pun bangkit dan beringsut mundur menjauhi pintu masuk padepokan Watu Belah, diikuti anak buahnya yang lain. Tetapi dari atas bongkahan batu itu ternyata ada orang padepokan yang sedari tadi mengamati. Melihat lapis pertama dapat dilumpuhkan Linggar, orang itu melontarkan panah sanderan ke arah pusat padepokan. Sebagai pertanda bahwa ada bahaya mengancam. Salah seorang prajurit Pajang yang baru datang kemudian bersama rombongan Raden Pamekas tidak tinggal diam. Prajurit itu melontarkan panahnya ke arah orang yang melontarkan panah sanderan tadi. Akibatnya, orang itu tertusuk panah di dada dan jatuh terjerembab dari atas bongkahan batu tersebut. Raden Pamekas dan Ki Lurah Rangga Jati yang datang kemudian, sempat menyaksikan Linggar dan Wurpasa dapat melumpuhkan lawan. Raden Pamekas pun mengagumi kemampuan dua telik sandi Pajang itu. “Luar biasa Rangga Jati! Kau mampu membuat kedua anak muda itu begitu tangguh,” kata Raden Pamekas. “Hamba hanya membentuk apa yang sudah ada pada diri Linggar sebelumnya, Raden. Dan juga keuletan Wurpasa membuat ia dapat menyesuaikan diri dengan Linggar, meskipun belum sepadan bila dibandingkan dengan Linggar. Selebihnya tentu atas tuntunan dan petunjuk Ki Wila dan Raden sendiri,” kata Ki Lurah. “Ya. Dua telik sandi ini memang cukup tangguh, terutama Linggar,” Kata Raden Pamekas lagi. “Hanya saja dendam didadanya memang belum sembuh benar, akibat peristiwa sebelumnya. Mudah-mudahan seterusnya ia dapat segera melupakannya.” Kemudian, pasukan segelar sepapan sudah menggabungkan diri dengan dua telik sandi itu. Selanjutnya bergeraklah pasukan itu memasuki gerbang padepokan Watu Belah. Tetapi didalam padepokan kegemparan telah terjadi, karena isyarat panah sanderan yang telah dilepaskan sebelumnya itu, telah diketahui para penghuni padepokan. Mereka berlarian kesana-kemari mempersiapkan diri dan mencari tahu apa yang terjadi. Bajul Wedi dan beberapa petinggi Pajang yang lain, yaitu Derpayuda dan Purbasana menjadi was-was. Mereka tidak dalam keadaan siaga, setelah tadi malam berpesta dan mabuk tuak. Bajul Wedi selaku cantrik padepokan langsung bergegas keluar melihat keadaan yang terjadi. Sepeninggal Cantrik padepokan itu, tampak dua tumenggung Pajang itu menjadi gelisah. “Derpayuda! Rupanya rencana kita telah tercium Wilamarta, sebagai orang yang diperintah langsung kanjeng Adipati Hadiwijaya. Ia adalah kepanjangan tangan dari Pajang dalam hal ini,” kata Purbasana sambil berjalan hilir-mudik. “Aku juga tidak menyangka, padahal kita sudah menutup rapat rahasia ini. Bahwa pagi ini kita akan berangkat menyerang Mangir. Prajurit yang kita libatkan pun sudah orang-orang yang bersumpah setia pada kita. Aku tidak habis pikir, malah mereka yang mendahului menyerang padepokan ini!” kata Derpayuda. “Pasti telik sandi dibawah pimpinan Rangga Jati yang sudah mengetahui rencana ini,” kata Tumenggung Purbasana, geram. “Kita harus bertindak cepat dan hati-hati, Purbasana. Kita tidak tahu apakah padepokan ini akan menang atau bertahan berbenturan dengan Pajang?” “Maksudmu?” tanya Purbasana. “Kita harus pandai menempatkan diri dan menutupi jatidiri kita, sebelum kita tahu akhir dari pertempuran ini. Siapa yang terkuat Padepokan Watu Belah atau Pajang?” ujar Derpayuda. “Maksudmu kita harus bersembunyi sampai peperangan usai?” tanya Purbasana menegang. “Tidak! Kita hadapi mereka tetapi dengan menutup sebagian wajah kita dengan kain penutup wajah. Agar tidak mudah dikenali, bahwa kita ini adalah pejabat di Pajang.” Purbasana mengangguk-angguk, sepakat. Lalu mereka berdua segera bergegas keluar dan mengatur puluhan prajurit yang mereka bawa sebelumnya dari Prambanan. Dengan dipimpin seseorang Lurah diantara mereka, mereka pun diperintahkan maju ke regol padepokan. Sementara dua tumenggung itu hanya mengikuti dan memantau dari belakang barisan. Sementara itu terlihat disana-sini para penghuni padepokan telah bersiap menyongsong serangan dari luar padepokan itu. Suara kentongan dengan nada titir terus-menerus terdengar memberi isyarat bahwa ada bahaya yang mengancam mereka. Para penghuni padepokan mempersiapkan diri dengan mengambil senjata-senjata, berupa pedang, tombak, keris bahkan beberapa senjata lontar seperti lembing. “Celaka Pangeran! Pasukan Pajang telah memasuki pintu gerbang padepokan Watu Belah. Bahkan keadaan kita belum siap sama sekali.” Orang yang dipanggil Pangeran itu berwajah dingin dan berkulit bersih. Ia hanya tersenyum tipis. Pangeran yang merasa turut berhak atas wahyu keraton itu memandang keluar jendela, lalu berkata, “hadapi saja mereka, kita tidak perlu takut. Aku akan segera menyusul dengan Kiai Jambe Abang.” “Baik Pangeran!” sahut Bajul Wedi kemudian bergegas keluar. Setibanya di luar Padepokan ia langsung memerintahkan para murid padepokan menuju regol dan mempertahankan pintu regol agar tetap dalam keadaan tertutup. Pintu regol itu terbuat dari batang pohon jati yang kuat serta disusun berjajar rapat, dengan tinggi dua kali orang dewasa. “Pertahankan pintu regol itu! Beri penahan batang-batang pohon yang tersedia di padepokan, agar tidak mudah didobrak!” perintah Bajul Wedi. Perintah itu pun disambut cepat para murid padepokan. Mereka secara bergotong-royong menambah penyangga gerbang regol itu dengan batang-batang pohon setinggi orang dewasa, dengan lebar sepelukan tangan orang dewasa. “Lontarkan anak panah ke arah para prajurit Pajang itu!” Jangan biarkan mereka mendekat ke pintu regol!” perintah Bajul Wedi. Seketika itu pula dua regu pemanah, yang masing-masing regu terdiri dari tiga orang. Memanjat Gardu pandang yang ada di kanan dan kiri gerbang regol. Dari ketinggian gardu pandang itu, masing-masing regu melesatkan anak panah berkali-kali untuk menghalau prajurit Pajang. Para prajurit Pajang yang sedang berlarian menuju pintu gerbang pun tertahan, karena lontaran anak-anak panah itu. Sebagian dari mereka, ada yang tertusuk anak panah dibagian bahu dan dibagian kaki mereka. Ki Lurah Rangga Jati yang menyaksikan itu segera memerintahkan para prajuritnya berlindung. “Berhenti! Berlindunglah di balik-balik pohon!” perintahnya dengan lantang. “Tunggu aba-aba dariku sebelum bergerak maju! Kita sedang mencari cara agar bisa masuk kedalam Padepokan itu!” “Bagaimana Raden? Agaknya sulit untuk menembus benteng pertahanan mereka,” kata Lurah Rangga Jati. “Ya memang. Dua regu pemanah di gardu pandang itu pun berperisai papan yang berjejer dihadapannya. Hingga sulit bagi kita untuk melumpukan regu pemanah itu,” jawab Raden Pamekas. Sesaat mereka terdiam. Baik Ki Lurah, Raden Pamekas, Linggar dan Wurpasa belum mempunyai cara untuk menyiasati keadaan itu. Tetapi kemudian Linggar memperhatikan Gardu Pandang itu, memang seluruh tubuh pemanah itu tertutup dinding kayu. Dan hanya bagian kepalanya saja yang tersembul keluar. “Ki Lurah dan Raden Pamekas. Bagaimana kalau aku saja yang melumpuhkan salah satu regu pemanah itu?” kata Linggar. “Bagaimana caranya?” tanya Ki Lurah heran. “Aku akan mencoba membidik regu pemanah itu,” jawab Linggar. Sesaat Ki Lurah memandang Raden Pamekas, seolah meminta pertimbangan. Tetapi Raden Pamekas sendiri tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala. Seolah menyetujui usul Linggar. Ki Lurah kemudian menyerahkan beberapa anak panah beserta busurnya kepada Linggar. “Berhati-hatilah!” Linggar lalu berjalan ke medan yang terbuka, yang ada di sebelah kiri. Ia menghadap gardu pandang yang ada di sebelah kiri itu, tetapi terlindung dari jangkauan regu panah yang ada di sebelah kanan. “Hei pengecut! Ayo bidiklah aku, aku ingin melihat seberapa mahir kau memainkan anak panahmu itu!” tantang Linggar. Raden Pamekas dan Ki Lurah Rangga Jati dan seluruh rombongan yang berlindung di lebatnya pohon berdebar-debar, melihat aksi nekat Linggar. Tidak ada jawaban dari regu pemanah itu. Suasana pun mendadak mencekam. Tetapi kemudian dengan serentak regu pemanah itu menampakkan diri, siap membidik Linggar. Linggar pun telah siap dengan tiga anak panahnya yang ada dalam satu busur, yang telah pula ia rentangkan sekaligus. Linggar menarik busur panah itu dengan kuat. Kemudian melesatlah tiga anak panah, dengan kecepatan melebihi kecepatan anak panah regu pemanah tadi. Sungguh diluar dugaan, tiga anak panah Linggar mampu mengenai sasaran tiga orang pemanah di atas gardung pandang tadi. Ketiganya yang ada di gardu pandang kiri itu, mengeluh tertahan menahan sakit. Tiga anak panah Linggar menancap di dada, dan dua lagi di menancap bahu dan lengan diantara mereka. Kini satu regu pemanah dapat dilumpuhkan sudah, hanya tinggal satu regu pemanah lagi. Sorak-sorai diluar melihat kemampuan Linggar melumpuhkan regu pemanah sangat mempengaruhi ketahanan jiwa orang-orang padepokan. Nama Linggar begitu dielu-elukan diantara para prajurit Pajang. “Linggar Wulung..! Linggar Wulung..! Hidup Pajang!” Sorak-sorai itu terdengar begitu riuh. Regu pemanah yang ada di gardu pandang kanan pun menjadi berdebar-debar melihat kemampuan Linggar. Mereka menahan diri untuk menampakkan diri. Sementara di dalam padepokan Bajul, Wedi menggeram melihat satu regul pemanahnya dapat dilumpuhkan. “Kurang Ajar! Siapa telah membidik dengan tepat itu!” katanya penuh amarah. Bajul Wedi merasa perlu membuat siasat, kemudian ia kembali mengatur barisannya. “Siapkan lembing-lembing kalian. Sebentar lagi, kita hujani mereka dengan lembing-lembing itu!” katanya lagi. Maka bergeraklah sekelompok murid padepokan dengan lembing-lembing ditangan siap diluncurkan. Mereka berbaris berjajar menghadap pintu regol yang masih berdiri kokoh disokong batang-batang jati. Diluar Ki Lurah Rangga Jati telah mempersiapkan pula barisannya. Prajurit garda terdepan dipersiapkan membawa tameng berjajar dan di belakangnya berbaris regu pemanah siap menggempur. Regu pemanah di gardu pandang kanan sudah tidak berarti lagi kemudian. Karena beberapa prajurit telah melempari mereka dengan batu-batu seukuran kepalan tangan. Regu pemanah itu berebutan menuruni tangga dengan tergesa-gesa sambil mengerang kesakitan karena terkena lemparan batu, bahkan satu diantaranya jatuh dari tangga. Setelah itu bergeraklah prajurit Pajang mendobrak gerbang regol itu. Dengan sebatang kayu besar yang ditopang beramai-ramai, batang kayu itu bergerak maju-mundur untuk mendobrak gerbang regol. Irama gerakannya sesuai aba-aba dari seorang prajurit yang berdiri menopang batang kayu terdepan. “Maju..! Mundur..!” teriak seorang prajurit, disambut teriakan yang sama secara serentak. Seiring dengan itu gerbang regol mulai tergetar dengan hebat. Lambat-laun ikatan-ikatan gerbang itu pun mengedur. Dari dalam padepokan sendiri, para pelempar lembing menunggu dengan berdebar-debar, menunggu saat gerbang itu roboh, maka lembing-lembing mereka akan siap diluncurkan menghalau laju gerak prajurit Pajang. Dalam pada itu pada baris lapis dua padepokan Watu belah. Tempat dimana prajurit-prajurit pembelot dibawah pimpinan Tumenggung Purbasana dan Derpayuda telah menunggu perintah. Prajurit pembelot itu telah bersumpah setia kepada perjuangan Pangeran Pujapati, tentu dengan imbalan yang berarti. Selama mereka bertugas di Prambanan telah menerima upah yang tidak sedikit dari Padepokan Watu Belah, walaupun asal upah itu didapat dari menjarah dusun-dusun terpencil di sekitar Pajang. “Sebentar lagi gerbang regol itu akan roboh, Purbasana!” “Ya, Derpayuda. Apa boleh buat, kita songsong saja mereka. Seperti rencanamu, jika kita terdesak kita tinggalkan Padepokan ini!” “Tetapi, bagaimana pertanggungjawaban kita nanti pada Kanjeng Adipati jika keterlibatan prajurit kita di Prambanan diketahui, Derpayuda? Dan mereka pun tidak menghubungi kita di Prambanan dalam hal penyerangan ini, bahkan meminta bantuan pun tidak,” kata Purbasana cemas. “Aku tidak bodoh, Purbasana. Bukankah aku memintamu meninggalkan separuh kekuatan prajurit di Prambanan?” Tumenggung Purbasana masih tidak mengerti maksud sahabatnya itu. “Apa hubungannya, Derpayuda?” “Itu bisa kita jadikan dalih, bahwa prajurit yang terlibat disini bukan atas perintah kita. Melainkan atas perintah salah seorang Lurah Prajurit yang telah membelot pada kita.” Tumenggung Purbasana mengangguk-angguk dan bernapas lega kemudian. “Kau memang jeli menyikapi keadaan Derpayuda,” katanya sambil tersenyum. Akhirnya yang jadi pusat perhatian mereka pun, tersibak sudah. Gerbang regol itu mulai bergemeretak, kemudian terdengar suara berderak, seiring dengan itu robohlah gerbang regol padepokan itu. Maka kini diantara kedua kubu tidak ada sekat pemisah, mereka bisa saling melihat keadaan lawan. Dari dalam terlihat pasukan Pajang yang segelar sepapan membawa dan umbul-umbul merah serta hitam berkibar menggetarkan jantung lawan. Dari kubu Pajang pun melihat orang-orang Padepokan yang bersenjatakan lembing-lembing siap diluncurkan, belum lagi senjata-senjata mereka yang lain, yang terlihat tidak lazim baik dari segi bentuk maupun ukuran. Senjata-senjata itu seperti terlihat haus akan darah. Senjata mereka berupa bedog dengan lebar dua kali lipat dari ukuran biasanya. Ada juga yang menggunakan bandil, berupa rantai berbandul gerigi tajam. “Lemparkan lembing-lembing itu! Arahkan pada lawan kita yang terdepan!” perintah Bajul Wedi kemudian. Maka melesatlah berpuluh-puluh lembing tajam ke udara, lalu menukik tajam ke arah prajurit Pajang yang ada di garda terdepan. Tetapi prajurit garda terdepan sudah siap dengan tameng-tameng mereka. Begitu lembing-lembing itu ada di atas kepala, mereka langsung melindungi tubuh mereka itu dengan tameng-tameng itu secara serentak. Pergerakan yang cepat dan diluar dugaan itu membuat pemimpin padepokan Watu Belah terkejut. Tetapi ia tidak patah arang, karena masih ada lembing-lembing berikutnya yang akan menyusul. Tetapi belum lagi aba-abanya terdengar, regu pemanah dari pihak Pajang telah menyibak maju mengganti barisan berperisai sebelumnya. Mereka dengan serentak menarik busur-busur panah mereka diarahkan ke orang-orang padepokan yang bersenjatakan lembing. Akibatnya, anak panah yang melesat berpuluh-puluh itu melukai pihak padepokan, mereka tertusuk panah pada bagian-bagian tubuh mereka, dan kemudian satu-persatu jatuh bertumbangan.
- Cerita silat sempat digandrungi pembaca buku di Indonesia. Kisah disajikan berjilid-jilid, membuat pembacanya tak sabar menunggu episode berikutnya. Beberapa penulis merajai pasar ini, salah satunya Singgih Hadi ratusan judul cerita silat ini dilahirkan di Yogyakarta pada 26 Januari 1933. Selain menjadi penulis cerita silat, Mintardja bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan, dan terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Daerah Istimewa Yogyakarta. Kisah-kisahnya digali dari pelbagai sejarah kerajaan di Jawa. Menurut Teguh Setiawan dalam artikel bertajuk “Dari Hui Rui sampai KPH” yang dimuat Republika edisi 14 November 2011, Mintardja menguasai Babad Tanah Jawi sehingga relatif tak menemui kesulitan saat menulis karya-karyanya. Sebelum Mintradja, penulis lain yakni Kho Ping Hoo telah lebih dulu melahirkan cerita silat yang berlatar cerita-cerita dari Cina. Inilah yang memotivasi Mintradja untuk menulis cerita silat dengan latar sejarah Jawa. “Booming cerita silat Tionghoa memprovokasi penulis lokal untuk menulis genre yang sama tapi dengan latar belakang Jawa. Singgih Hadi Mintardja muncul sebagai penulis cerita silat lokal yang paling fenomenal,” imbuh Teguh Setiawan. Salah satu karya Mintardja yang digandrungi, Api di Bukit Menoreh 1967, terdiri dari 400 lebih seri. Saking populernya, cerita ini sempat diangkat ke layar lebar pada 1971. “Lewat buku ini, saya ingin menegaskan bahwa tanah tumpah darah kami juga memiliki material yang bisa dijadikan bahan cerita silat […] Saya ingin menciptakan cerita saya dengan ruang imajinasi lokal,” kata Mintardja seperti dikutip Teguh Setiawan dalam artikelnya yang lain. Selain Api di Bukit Menoreh, karya lainnya yang laris di pasar adalah Nagasasra dan Sabuk Inten. Cerita ini mula-mula dimuat bersambung di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Kisah ini melahirkan tokoh legendaris bernama Mahesa Jenar yang amat melekat di ingatan para pembaca. Ia dikisahkan sebagai mantan prajurit Kesultanan Demak yang mencari pusaka kerajaan, yakni keris Nagasasra dan Sabukinten. Berkat keteguhannya, ia berhasil mendapatkan kembali kedua keris itu sebagai simbol kejayaan negara. Sepi Ing Pamrih dan Menang Ora Ngasorake Sekali waktu, seperti dilaporkan Tempo edisi 18 Januari 1992, Mahesa Jenar sempat dipentaskan dalam bentuk ludruk di hadapan para tentara. Judul pentasnya “Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro”—sekarang menjadi Kodam IV Diponegoro. Seperti perjuangan Mahesa Jenar setelah tak lagi menjadi prajurit Demak, pementasan ini menekankan pentingnya bakti kepada negara meski sudah tidak lagi menjabat. Di sisi lain, sosok Mahesa Jenar yang tanpa pamrih menyentil laku para mantan pejabat yang kerap ingin menjadi “pengusaha profesional atau politikus oplosan.” “Darma kita kepada negara tak harus dilakukan dalam status pejabat resmi. Sambil jadi orang biasa pun jalan darma tetap terbuka,” kata Widayat yang memerankan Mahesa Jenar, seperti dikutip Tempo. Namun, imbuh Tempo, kala itu dekade 1990-an, dan barangkali hingga saat ini, mengikuti laku Mahesa Jenar tidak mudah. Para mantan pejabat tak suka memilih jalan sepi ing pamrih, sebab ia akan ora keduman atau tak kebagian di tengah persaingan mengejar materi dan jabatan baru. Sikap ini dilatari ketakutan para pejabat ketika mereka menjadi mantan pejabat. Segala kekuasaan luruh, hilang dari keseharian yang telah begitu lama dinikmati. Ketakutan berdegap kala masa pensiun telah menunggu di hadapan. “[Menjadi] mantan, pendeknya, gejala menakutkan. Mungkin malah wujud ketakutan itu sendiri. Maka, kalau menjadi mantan tak lagi terhindarkan, maunya mereka mau menjadi mantan yang makmur […] Pendeknya, jangan seperti Mahesa Jenar sepi, dingin, di hutan-hutan, jauh dari bar dan credit card,” pungkas Tempo. Selain bersahaja, sikap Mahesa Jenar yang lain adalah menghindari kekerasan dalam menaklukkan lawannya, setidaknya dalam adegan saat dia mengalahkan Ki Wirasaba. “Menang ora ngasorake” kata pitutur Jawa. Seno Gumira Ajidarma dalam Kompas edisi 24 Januari 1999 mengisahkan adegan ini. Sekali waktu, saat ia berkonflik dengan Ki Wirasaba—orang yang kakinya ia obati sehingga sembuh dari kelumpuhan—Mahesa Jenar tak membunuh atau melukai lawannya. Saat kapak Ki Wirasaba mencuil batu untuk memperlihatkan kesaktiannya, Mahesa Jenar justru menghancurkan batu itu dengan ajian Sasra Birawa. Ki Wirasaba terkejut dan akhirnya menyadari kesalahan dan kelemahannya. Belum Tamat hingga Pungkas Hayat Mintardja wafat pada 18 Januari 1999, tepat hari ini 20 tahun lalu. Ia meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, setelah sebulan dirawat karena menderita penyakit ginjal dan jantung. Jenazahnya dikebumikan di permakaman Arimatea Jalan Tamansiswa, Yogyakarta. Pemakamannya, seperti dilaporkan Kompas edisi 21 Januari 1999, dihadiri mantan Dirjen Kebudayaan, Kapolda DI Yogyakarta, dan kalangan pejabat pemerintah Provinsi dan Kota Yogyakarta. Selain itu, hadir pula kalangan seniman dan sastrawan seperti Bakdi Sumanto, Sudarso Sp, Butet Kertarejasa, Bondan Nusantara, Yati Pesek, Jadug Ferianto, dan ilustrator sejumlah ceritanya yakni Herry Wibowo. Menurut putra tertuanya, Andang Suprihadi, seperti dilansir Kompas, Mintardja menderita sakit jantung koroner sejak 1989. Meski demikian ia tetap berkarya. “Bapak memang penuh semangat kalau sudah menulis. Kalau sudah khusyuk menulis tidak ada yang berani mengganggunya,” ujar Andang. Infografik Mozaik Singgih Hadi Mintardja Sepanjang hidupnya, selain menulis cerita silat, ia juga menulis cerita ketoprak, di antaranya Ampak-ampak Kaligawe, Kembang Kecubung, Kembang Tumelung, dan Prahara. Sementara cerita silat lainnya yang diangkat ke layar lebar selain Api di Bukit Menoreh adalah Tanah Warisan, yang dalam film judulnya menjadi Sisa-sisa Laskar Pajang 1972. Andang Suprihadi menambahkan, sejak pertama kali dimuat di sebuah surat kabar pada 1968, kisah Api di Bukit Menoreh belum juga selesai sampai hidup Mintardja usai. “Sudah sampai Api di Bukit Menoreh IV/59. Jadi artinya sudah 459 jilid buku. Ceritanya masih terus jalan,” katanya. Kiprah Mintardja dalam dunia menulis dianugerahi sejumlah penghargaan. Salah satunya Sang Hyang Kamahayanikan Award dari panitia Borobudur Writers and Cultural Festival tahun 2012 yang saat itu mengusung tema “Memori dan Imajinasi Nusantara Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. Mintardja, yang kata Seno Gumira Ajidarma adalah seorang yang sangat sederhana dan rendah hati serta tidak pernah terlibat polemik sastra yang cerewet, dinilai layak mendapat penghargaan itu. Ia merupakan generasi pertama penulis cerita silat yang mengangkat latar sejarah Nusantara. - Humaniora Penulis Irfan TeguhEditor Ivan Aulia Ahsan
- Asmaraman Kho Ping Hoo dan SH Mintardja adalah dua sosok penulis cerita silat legendaris di eranya. Di mana masyarakat begitu menggemari cerita-cerita yang disuguhkan. Jika Kho ping Hoo mengambil setting cerita di negeri Cina, lain lagi dengan SH Mintardja, ia mengambil latar belakang Jawa. Di dalam karir kepenulisannya, SH Mintardja lebih banyak dikenal sebagai penulis kisah bersambung cerita silat dengan setting kerajaan Mataram hingga era Sultan Agung. Karya-karyanya bertebaran di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Kedaulatan Rakyat. Api Di Bukit Menoreh adalah karya terpanjang Sh Mintardja, di mana beliau menuliskannya hingga 396 episode. Api Di Bukit Menoreh juga salah satu karya SH Mintardja yang kemudian dijadikan sebagai cerita film layar lebar. SH Mintardja pria kelahiran Yogyakarya, 26 Januari 1933. Nama SH di depan Mintardja sendiri adalah kepanjangan dari Singgih Hadi. Maka beberapa kerabatnya akrab memanggilnya dengan P Singgih. Baca Juga Candi Panataran, Candi Pemujaan Termegah dan Terluas di Jawa Timur Ia pernah bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan pada 1958. Lalu, di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud DIY pada tahun 1989. Sejak muda, SH Mintardja memang sangat menyukai dunia seni. Setelah menyelesaikan pendidikannya di bangku menengah atas, ia dan tiga orang temannya, Kirdjomuljo, Nasjah Jamin Widjaja, dan Sumitro mendirikan majalah Fantasia dan Intermezzo. Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahirlah cerita Nagasasra Sabuk Inten. Kisah berlatar belakang kerajaan Demak itu melahirkan tokoh Mahesa Jenar. Karena cerita Nagasasra sebanyak 28 jilid begitu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca, banyak orang yang terkecoh dengan cerita roman sejarah itu. Banyak yang mengira Mahesa Jenar benar-benar ada dalam sejarah Demak. Akibatnya, tim sepakbola asal Semarang pun dinamakan Tim Mahesa Jenar. Mungkin dengan nama itu Wong Semarang berkeinginan kiprah tim sepakbola sehebat Mahesa Jenar dengan pukulan “Sasra Birawa”-nya yang menggeledek. Baca Juga The Broken Circle Breakdown Menguji Sebentuk Kesetiaan “Padahal saya memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau didengar kok enak,” ujar Mintardja dalam pengakuannya di buku Apa dan Siapa Orang Yogyakarta, edisi 1995. Buku Nagasasra belum surut dari pasaran, SH Mintardja membuat kisah Pelangi di Langit Singasari dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an kemudian dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan. Agaknya suami Suhartini yang tinggal di Kampung Daengan, Gedongkiwo, Yogya ini tidak pernah mengenal lelah. Pada tahun 1967 menggelindingkan Api di Bukit Menoreh mengambil kisah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Di sana ada tokoh Agung Sedayu, Swandaru, Kyai Gringsing, Sutawijaya, dan paling terakhir adalah Glagah Putih dan Rara Wulan — saudara sepupu sekaligus murid Agung Sedayu. Ada sementara penggemar cerita SH Mintardja yang bilang, bila dijajarkan, maka cerita Api di Bukit Menoreh panjangnya melebihi jarak Anyer – Panarukan. Baca Juga Inilah Juara Musabaqah Hafalan Al-Qur'an dan Al-Hadits 2022 Di sisi lain, Mintardja pun berusaha menulis kisah petualangan pendekar pembela kebenaran yang lebih pop. Kisah itu tidak terlalu keraton sentris, namun berusaha digali dari kisah kehidupan sehari-hari dengan setting masa lalu, ya apalagi kalau tidak jauh dari kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Kisah seperti Bunga di Atas Batu Karang yang mengisahkan masuknya pengaruh Kumpeni Belanda ke Bumi Mataram; kemudian serial Mas Demang yang “hanya” mengisahkan anak seorang demang. Dan terakhir adalah tokoh Witaraga dalam kisah Mendung di Atas Cakrawala, mantan prajurit Jipang yang kalah perang yang berusaha menemukan jatidirinya kembali dengan mengabdi pada kebenaran dan welas asih. Ada yang khas dari seluruh kisah yang ditampilkan SH Mintardja. Ia berusaha menyelipkan pesan-pesan moral di dalamnya. Bahkan di dalamnya juga diperkenalkan beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin saat ini mulai punah. Sebagai contoh adalah ungkapan rasa syukur menjelang panen padi di desa-desa. Upacara “wiwit” yang berarti “mulai” panen, berupa pesta kecil di tengah sawah, beberapa kali dengan jelas ditampilkan dalam beberapa ceritanya. Adat kebiasaan “mitoni” atau “sepasaran” dalam menyambut kelahiran bayi di masyarakat Jawa pun dengan pas digambarkannya. Banjir darah tidak selalu dijadikan penyelesaian akhir untuk menentukan bahwa yang benarlah yang menang. Ada penyelesaian akhir yang lebih pas. Bertobat, tanpa harus ada yang terbunuh. Bahkan ayah 8 anak, empat putra dan empat putri serta kakek 12 cucu ini, sejalan dengan usia dan perkembangan zaman, kematangan menulisnya pun semakin tercermin di dalam kisahnya. Disadur dari berbagai sumber ***
cerita silat jawa mataram