🦎 Jenis Jenis Pidarta Bahasa Bali
ContohPidarta Singkat Bahasa Bali. Pancawara sekadi budha kliwon, anggara kasih, 3)nganutin ketekan wuku. Matur suksema majeng ring pangenter acara santukan galahe sane becik puniki kapica ring pasikian titiange. Ngelanjutin posting tentang pidato bahasa bali.
Meskipunbahasa Bali juga memiliki jenis dan tingkatan yang berbeda-beda seperti bahasa jawa tetapi Kosa kata yang akan diberikan ini di bawah ini merupakan bahasa umum yang digunakan sehari-hari oleh penduduk Bali. 1232021 Demikianlah pidato singkat tentang kedisiplinan yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini semoga saja kita bisa selalu disiplin dalam segala hal sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik bagi nusa bangsa negara dan.
Inilahyang dapat admin bagikan terkait jenis jenis pidarta bahasa bali. Contoh pidarta bahasa bali
 Pengertian Pidato, Jenis, Macam, Tujuan, Fungsi, Metode & Contoh. 19 Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Para Ahli Terlengkap | Pelajaran Sekolah Online. Perpustakaan IAIN Surakarta. Pidarta Bahasa Bali Pendek - Beinyu.com. Peranan Ibu dalam Pendidikan, Anak. Materi Pidarta Bahasa Bali Dan Contoh - AWCYBER
JenisJenis Pidarta Bahasa Bali Tokoh lain menyebut empat bentuk ini bukan sebagai jenis pidato, tetapi merupakan metode pidato. Persuasif propaganda merupakan teks yang isinya berusaha menggiring pembaca atau pendengar terhadap opini tertentu.
RPPMata Pelajaran Bahasa Bali Kelas Tujuh semester satu materi pidato Bahasa Bali, Pada sekolah SMP Negeri 1 Kintamani, dengan metode Problem Base Learning siswa mampu memahami pengertian pidato bahasa Bali, Mampu menganalisis jenis-jenis pidato, mampu menganalisis agem-ageman atau tetikesan pidato bahasa Bali. Serta mampu membuat teks pidato Bahasa Bali.
Wangunpidarta ring sor puniki manut ring soroh pamahbah sajabaninga. Sebagai orang Bali wajib hukumnya kita agar dapat berbahasa Bali yang baik dan benar berikut adalah contoh pidato Bahasa Bali pidarta yang penulis karang sendiri semoga bermanfaat. Ngrajegang Budaya Bali. Kepala SMA Negeri 1 Mengwi sane dahat kesumayang titiang.
Ringgalahé becik puniki titiang pacang ngaturang pidarta sané mamurda "Basa Bali Pamikukuh Budaya Bali". Ida dané para atiti sareng sami sané wangiang titiang. Sadurungé titiang nunas pangampura pisan, duaning kadi prasangga purun titiang matur, mabah saparindik basa Bali pinaka silih tunggil pamikukuh budaya Baliné.
Sebagaiorang Bali, wajib hukumnya kita agar dapat berbahasa Bali yang baik dan benar, berikut adalah contoh pidato Bahasa Bali (pidarta) yang penulis karang sendiri, semoga bermanfaat. NGELESTARIANG SENI LAN BUDAYA BALI. Kepala SMA Negeri 1 Mengwi sane dahat kesumayang titiang. Bapak lan ibu guru SMA Negeri 1 Mengwi sane wangiang titiang.
4FLq. Pendahuluan Halo, Teman Operator! Apakah kamu sudah pernah mendengar tentang pidarta bahasa Bali? Pidarta adalah salah satu bentuk sastra lisan yang sangat terkenal di Bali. Pidarta ini biasanya dilantunkan dalam bahasa Bali dan berisi pesan moral yang sangat berharga. Pidarta tidak hanya sekadar hiburan atau seni, namun juga sarana untuk mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Melalui artikel ini, mari kita memahami lebih dalam tentang pidarta bahasa Bali. Apa itu Pidarta? Pidarta adalah salah satu bentuk sastra lisan yang lahir dari kebudayaan Bali. Pidarta biasanya berbentuk puisi dan dilantunkan secara berulang-ulang. Pidarta sering disebut juga sebagai pantun Bali. Seperti pantun pada umumnya, pidarta memiliki struktur yang berulang, yaitu dua larik atau baris yang terdiri atas 8-12 suku kata. Pidarta sering kali memiliki makna filosofis atau pesan moral yang cukup dalam. Jenis-jenis Pidarta Ada beberapa jenis pidarta yang dikenal di Bali, antara lain Pidarta Lelambatan – pidarta ini dilantunkan dalam upacara adat, baik dalam rangkaian upacara keagamaan maupun upacara adat lainnya. Pidarta Tembang – pidarta ini dilantunkan dalam pertunjukan seni tradisional Bali, seperti wayang wong, sendratari, dan lain sebagainya. Pidarta Panyembrama – pidarta ini dilantunkan dalam pertunjukan tari Bali, seperti panyembrama dan joged bumbung. Struktur Pidarta Pidarta memiliki struktur yang khas, yaitu terdiri atas beberapa bagian, antara lain Pupuh Pupuh adalah bagian pertama dari pidarta. Pupuh ini berisi pengenalan tentang topik yang akan dibahas dalam pidarta tersebut. Pupuh biasanya terdiri atas 4 baris atau 8 suku kata. Umbul-umbul Umbul-umbul adalah bagian kedua dari pidarta. Bagian ini berupa penghormatan kepada para dewa dan leluhur yang dianggap sebagai pelindung Bali. Umbul-umbul biasanya terdiri atas 4 baris atau 8 suku kata. Gelar Penghormatan Gelar penghormatan adalah bagian ketiga dari pidarta. Bagian ini berupa penghormatan kepada orang-orang yang dihormati atau dianggap penting dalam kehidupan di Bali. Gelar penghormatan biasanya terdiri atas 2 baris atau 4 suku kata. Tandak Tandak adalah bagian keempat dari pidarta. Bagian ini berisi tentang pesan moral yang ingin disampaikan melalui pidarta tersebut. Tandak biasanya terdiri atas 2 baris atau 4 suku kata. Buka Buka adalah bagian penutup dari pidarta. Bagian ini biasanya berisi tentang harapan atau doa yang diharapkan oleh pembuat pidarta. Buka biasanya terdiri atas 2 baris atau 4 suku kata. Contoh Pidarta Berikut adalah contoh pidarta yang cukup terkenal di Bali Pidarta Arti Pupuh Sinom Pohon beringin bercabang tigaBerkumpul burung merak mengadu cintaNiskala siwa sakti niskala siwa asihNiskala siwa budhi ngawit nyawa Pidarta Sinom mengajarkan tentang cinta kasih. Seperti pohon beringin bercabang tiga yang menyatu tetapi memiliki cabang yang berbeda, demikian juga cinta kasih harus menyatu meskipun datang dari berbagai sumber. Seperti burung merak yang berkumpul untuk mengadu cinta, demikian juga manusia harus saling mencintai dan menghargai. Niskala siwa sakti, niskala siwa asih, dan niskala siwa budhi adalah tiga unsur yang harus dipenuhi dalam kehidupan manusia. Jika tiga unsur tersebut terpenuhi, maka manusia akan hidup dengan bahagia dan penuh kedamaian. FAQ tentang Pidarta Bahasa Bali Apa kegunaan dari pidarta? Pidarta memiliki banyak kegunaan, antara lain sebagai sarana untuk mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, sebagai hiburan, serta untuk melestarikan kebudayaan Bali. Bagaimana cara membuat pidarta? Cara membuat pidarta cukup mudah, yaitu dengan mengikuti struktur yang telah ditentukan. Pupuh, umbul-umbul, gelar penghormatan, tandak, dan buka harus disusun dengan baik agar pesan moral yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan jelas. Apa saja jenis pidarta yang ada di Bali? Beberapa jenis pidarta yang dikenal di Bali antara lain pidarta lelambatan, pidarta tembang, dan pidarta panyembrama. Kesimpulan Pidarta bahasa Bali merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga. Pidarta bukan hanya sekadar hiburan atau seni, namun juga sebagai sarana untuk mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Melalui pidarta, kita dapat belajar tentang cinta kasih, kejujuran, dan kebijaksanaan. Pidarta juga dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan kita tentang kebudayaan Bali. Mari kita lestarikan pidarta sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Sampai jumpa kembali di artikel menarik lainnya!
News Bukan hanya 1 saja. Namun ada 3 jenis bahasa Bali. Di antaranya Bali Aga, Kawi Bali, dan Bali Kapara. Pebriansyah Ariefana Jum'at, 09 Juli 2021 1424 WIB Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali Dok. Pribadi/yudirahmatullah - Jenis bahasa Bali dan arti bahasa Bali. Bahasa Bali berbagai macam. Bukan hanya 1 saja. Namun ada 3 jenis bahasa Bali. Di antaranya Bali Aga, Kawi Bali, dan Bali Kapara. Bahasa daerah merupakan sebuah alat komunikasi yang dituturkan oleh suku adat masyarakat setempat di suatu daerah di Indonesia dan merupakan bagian dari kebudayaan yang harus selalu dirawat dan dijaga keberadaannya. Dilansir dari Neliti, seperti halnya di daerah lain, Bali memiliki tingkatan berbahasa anggah-ungguhin basa yang menyebabkan terdapatnya klasifikasi sosial dalam masyarakat Bali. Kemampuan seseorang dalam menggunakan Bahasa Bali memperlihatkan kedudukan sosial dan etika seseorang dalam berbahasa. Baca JugaMenkes Rumah Sakit di Bali Penuh Pasien COVID-19 Sehingga hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Secara temporal Bahasa Bali dibedakan atas Bahasa Bali Kuno yang sering disebut bahasa Bali Mula atau Bali Aga, bahasa Bali Tengahan atau Kawi Bali, dan bahasa Bali Kapara yang sering disebut bahasa Bali Baru atau Bali Modern. Secara regional, bahasa Bali terbagi ke dalam dua dialek yaitu dialek Bali Aga dialek pegunungan dan dialek Bali Dataran dialek umum, lumrah yang masing-masing memiliki ciri subdialek tersendiri. Bahasa Bali Kuno merupakan bahasa tertua di Bali yang banyak ditemukan pemakaiannya dalam prasasti-prasasti. Perkembangan bahasa Bali Kuno ini tak terlepas oleh pengaruh kebudayaan Jawa Hindu yang tampak bertambah kuat pada masa pemerintahan Anak Wungsu yang tampak sangat jelas dalam hal bahasa. Baca JugaMulai 12 Juli, Syarat Perjalanan Transportasi PPKM Darurat dari Surat Edaran Kemenhub Prasasrti yang bertuliskan bahasa Bali Kuno kemudian disalin dalam bahasa Jawa Kuno sehingga pemakaian bahasa Jawa Kuno menjadi suatu kebiasaan di Bali. Berita Terkait Arema FC baru-baru ini kedatangan kiper baru Adixi Lenzivio sebagai pengganti Adilson Maringa yang hengkang ke Bali United. denpasar 0909 WIB Jelang tahun ajaran baru. Orang tua dan calon siswa sekolah menengah atas SMA di Denpasar denpasar 0816 WIB Bali United mengagendakan laga uji coba. bola 2220 WIB Hal ini membuat pelaku wisata bahari, dan nelayan, harus mengantisipasi potensi ketinggian gelombang laut itu. bali 1835 WIB Tidak hanya mengadang tapi bule yang namanya belum dirilis Polisi tersebut juga melakukan perusakan. bali 1736 WIB News Terkini Dugaan akibat kebakaran gas itu menghanguskan puluhan rumah yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga dengan luas 30 are. News 1805 WIB Selain sebagai model, Puteri Indonesia NTB yang masuk 15 besar ini juga hobi mendaki gunung. News 1620 WIB Direktur Utama RSUD Provinsi NTB Lalu Herman Mahaputra membenarkan adanya utang MGPA tersebut. News 1609 WIB Dalam selebaran tersebut berisi 12 kewajiban dan 8 larangan bagi turis asing selama berada di Bali. News 0754 WIB Menurut informasi, awal menghilangnya Evie ini terjadi pada Senin 29 Mei 2023 sekitar Pukul WITA. News 0743 WIB Hal ini dikemukakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG yang memprediksi adanya potensi cuaca ini News 1640 WIB ule ini sempat viral akibat videonya tersebar di media sosial dan menuai banyak hujatan. News 2049 WIB Selain mengganggu ketertiban umum, bule Inggris ini juga sudah melampaui kedaluwarsa izin tinggal di Indonesia. News 1839 WIB Dari sana Gagnon langsung diboyong menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai. News 1817 WIB Informasi yang didapatkan kawanan copet tersebut beraksi dengan modus menjadi pengantar Jemaah. News 1619 WIB Hal ini karena ada bau busuk yang ditimbulkannya hingga menganggu warga setempat. News 1610 WIB Karena selama beroperasi, belum diketahui motif pelaku yang menyasar anak-anak. News 1508 WIB Tiga mantan anggota polisi tersebut berinisial IB, IGK, dan LS yang berdomisili di Kota Mataram. News 1922 WIB Tim dokter psikiater RSUP Prof. Ngoerah menetapkan CAP mengalami gangguan jiwa News 1428 WIB Karena tempat tinggalnya hanya tersisa satu ruangan akibat hantaman ombak. News 1417 WIB Tampilkan lebih banyak
BASA BALI PAMIKUKUH BUDAYA BALI Kaping ajeng, titiang ngaturang suksma ring pangénter parikrama antuk galah sané kapica ring titiang, sajeroning acara puniki. Ida dané sareng sami, pamekas para panuréksa saha angga sané dahat kusumayang titiang. Para panodya, pamilet, saha para siswa sané banget tresna sihin titiang . Sadurungé titiang nangiang atur, pinih riin ngiring sareng-sareng ngastiti bakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa kadulurin antuk panganjali, “Om Swastyastu”, mogi-mogi sangkaning sih pasuécan lan asung kerta wara nugrahan Ida, prasida titiang ngiring ida dané ipun ngmangguhang kerahayuan ring jagaté sekala yadian niskala. Ring galahé becik puniki titiang pacang ngaturang pidarta sané mamurda ”Basa Bali Pamikukuh Budaya Bali”. Ida dané para atiti sareng sami sané wangiang titiang. Sadurungé titiang nunas pangampura pisan, duaning kadi prasangga purun titiang matur, mabah saparindik basa Bali pinaka silih tunggil pamikukuh budaya Baliné. Atur pawungu titiangé puniki waluya sakadi nasikin segara utawi nangiang sang sané sampun matangi. Ri antukan katambetan titiangé tur kantun wimuda pisan. Janten sampun atur titiangé puniki ”ngatak wayah” nongklang-nongklang, menawi nénten manut ring pakayunan ida dané sareng sami. Inggih asapunika meled taler manah titiangé ngamiletin pacentokan pidarta basa Bali sané kelaksanayang ring galah sané becik puniki. Inggih pidaging titiang nawegang ring para atiti sareng sami. Mungguing kawéntenan basa Baliné sampun lami pisan. Yan kaperang antuk undagannyané, basa Bali kepah dados tigang paletan; kapertama Basa Bali Kuno utawi Bali Aga, kaping kalih Basa Bali Tengahan utawi Kawi Bali, lan kaping tiga Basa Bali Kepara utawi Bali Baru, basa Bali sané tami iraga mangkin. Yaning nganutin genahnyané, basa Bali punika kapérang dados kalih dialék, inggih punika, dialék Bali Aga utawi dialék pegunungan lan dialék Bali Dataran utawi dialék lumrah. Soang-soang dialek punika madué ciri sané matiosan. Madasar antuk wangsa lan linggih, basa Bali madué anggah-ungguhing basa. Anggahungguhing basa puniki nganutin wangsa utawi kasta para janané. Sané kabinayang antuk linggih sané kabaos Tri Wangsa Brahmana, Ksatrya, lan Wésia miwah linggih soroh jaba utawi sudra jadma makéhan. Lian punika, anggah-ungguhing basa manut antuk linggih sakadi mangkin, metu golongan anyar sane sane kawangun madasar antuk linggih sosialnyane ring masyarakat modern, sekadi soroh pejabat miwah jadma sugih. Nganutin anggah-ungguhing basa, basa Bali kapérang antuk Basa Bali Alus, Basa Bali Madia, lan Basa Bali Kasar. Manut undagan basa puniki nyihnayang basa Bali madué akéh pariasi ring kahanan, sané sampun kanggén saking riin olih para panglingsir iragané ring Bali pinaka basa ngarahina, mabligbagan, ring pauman, ring genah makarya, ring soang-soang kulawarga, lan pangénter yadnya ring parhyangan. Gumanti akéh pisan kawigunannyané sané siosan. Inggih pidaging titiang nawegang ring para atiti sareng sami. Kasujatianipun, sapunapi paiketan basa kalawan budayané? Basa pinaka piranti sané kanggén para janané maolah rasa berkomunikasilan bekerja sama sareng jadma tiosan ring masyarakat. Lianan ring punika, basa pinaka sarana panglimbak budaya, kasuksmané tan pabasa kebudayan punika nénten ja sida ajeg lan lestari. Basa naler pinaka silih tunggil pahan saking kabudayan. Lianan ring basa wénten sistem mata pencarian, sistem peralatan, sistem masyarakat, sistem ilmu pengetahuan, agama, lan kesenian. Basa Bali pinaka pamikukuh budaya Bali. Raosé inucap prasida kaodar santukan kadi sane sampun kabaosang ring ajeng, tan pabasa nénten majanten budaya Baliné prasida ngalimbak lan sida ajeg ngantos mangkin. Yan umpamiang titiang budaya Baliné sakadi taru ageng. Basa Bali pinaka akah lan agama pinaka rohnyane. Kasenian, ilmu pengetahuan lan sane tiosan pinaka carang lan donnyané. Né mangkin yaning akahé usak, tuh, lan tan prasida ngalimbak, sapunapiang i taru punika sida maurip? Sinah sampun aas don miwah carangcarangnyané. Taler asapunika yan imbayang titiang ring budaya Bali iragané. Napiké kayun ida dané yan budaya Bali iraga sané kabaos adi luhung puniki sirna? Sinah sampun sami nénten madué pikayun asapunika. Mangda nénten basa Baliné kebénjang pungkuran wantah dados basa ring lontar, ring sastra, ring sasuratan kémanten sakadi basa Kawiné. Ngiring ida dané sareng sami, égarang kayuné ngarajegang nganggén basa Bali pinaka basa iragané ngarahina. Yan ten iraga sira malih jagi ngajegang budayan iragané padidi. Ngiring sareng-sareng numbuhang jati diri pinaka nak Bali, mapan kadi baos panglingsiré dumun ”Basa ngantenang wangsa”. Sakadi tembang Baliné mangkin, ”Anak Bali, tiang nak Bali, mabasa Bali magending Bali. Dadi nak Bali, yen malali pasti mewali, mulih ka Bali,.......” . Asapunika kanti iraga gendingina, mangda éling iraga pinaka nak Bali. Inggih pidaging nawegang ida dané para atiti sareng sami. Maosang indik nganggén basa Bali ring aab jagaté mangkin, sayuakti pisan sakadi sampun pada kauningin sareng sami. Napi malih sareng anom-anom rumasa kuno pisan. Nénten gaul kabaosang. Titiang néwék ngrasayang naler. Ri tatkala mapupul sareng timpaltimpal ring sekolah, satata nganggén basa Indonesia. Matakén nganggén basa Bali, kacawis nganggén basa Indonésia. Ngantos madué papineh maboya titiang ring kalanggengan basa Baliné riwekas. Rumasa sulit pisan, napi malih iriki ring kota, yan minabang ring désa-désa kantun anom-anomé mareraosan nganggén basa Bali. Nika naler basané wantah basa Bali andap, yan nikain mabaos nganutin anggah-ungguhing basa utawi masor-singgih sinah taler sampun kikuk, ngaku nénten bisa, jejeh, takut pelih ngaraos sareng anak lingsir. Makéh alasan ipuné. Nah, unduk sané baosang titiang ring ajeng iwawu mawinan titiang néwék minehminehang angga, ”Yan tusing iraga né mapauruk ngajak timpal-timpalé mabasa Bali, sinah ia tusing lakar nyak malajah basa Bali”. Jengah padéwékan titiangé mangda nénten kekaonang wangsa saking dauh tukad. Ipun ring Bali maburuh ngaruruh pangupa jiwa, yaning matemu sareng kantinnyané paturu wangsa, bangga pisan ipun magegonjakan nganggén basa ipuné. Nanging iraga ring Bali, paturu nak Bali mabaosan nganggén basa Indonésia. Indarang pinehin sareng sami. Punika mawinan, titiang prasangga purun ngentenin ida dané sareng sami, ngiring iraga bangga pinaka jadma Bali, kukuhang budayan iragané malarapan ngelestariang basa Bali pinaka pamikukuh budaya Baliné. Ida dané pinaka panglingsir ngiring mapauruk ring alit-alit duéné ring jero, ring gria, ring puri, mangda nganggén basa Bali pinaka basa ngarahina. Punika taler para anom-anomé sareng sami, ngiring mabasa Bali. Tumbuhang rasa banggan iragané nganggén basa Bali ring wangsa tiosan. Inggih, wantah asapunika atur pawungu titiang ring ida dane sinamian, dumogi wénten pikenoh ipun. Yan jagi pacang nyarca indik kawentenan basa Baline, gumanti akeh pisan. Atur titiange puniki wantah pinaka jalaran ngawetuang rasa banggan titiang, sutindih bakti ring wangsa antuk ngajegang kabudayan iragane. Menawi wénten atur titiang nénten manut ring arsa minakadi unjuk lungsur, anggah-ungguhing basa tan manut titiang nunas geng pangampura. Om hayu wredhi tatastu astu. Sineb titiang antuk parama santi. Om Santih, Santih, Santih, Om TETUJON MABUSANA ADAT YENING NGERANJING KA PURA Om Swastyastu\ Bapak Guru sane wangiang titiang, tur timpal-timpal sane tresnain titiang, ngiring sarengsareng ngaturang puja pangastuti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, saantukan antuk kerta waranugrahan Ida, Iraga sareng sami prasida kacunduk ring galahe mangkin. Ri kalane puniki, titiang pacang ngaturang dharma wacana indik “Tetujon Mabusana Adat Yening Ngeranjing ka Pura.” Bapak Guru tur timpal-timpal titiang sane wangiang titiang, kaping pisan, Iraga sareng sami patut uning punapi Pura punika. Kruna Pura ngawit saking basa Sansekerta, sane tegesipun benteng. Pura inggih punika genah suci umat Hindu ngelaksanayang swadharma magama, sekadi ngaturang bakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, prabhawan Idane, tur Atma Siddha Dewata utawi atma suci kawitan. Kegunan Pura inggih punika sekadi genah kaanggen mabakti ring Ida Sang Hyang Widhi, mapagubugan, tur ngekehang keterampilan teknis, minakadi keterampilan mebanten, mejejaitan, megambel, miwah sane lianan. Bapak Guru tur timpal-timpal titiang sane wangiang titiang, napi ngawinang Iraga sareng sami patut mabusana adat yening ngeranjing ke Pura? Busana adat inggih punika busana sane kaangge olih krama Bali ngelaksanayang upacara adat lan agama. Iraga sareng sami patut nganggen busana adat yening ngeranjing ka Pura, awinan busana adat punika karasayang rapi, becik, suci, tur patut kaanggen ngeranjing ka Pura olih krama Hindu Bali. Yening Iraga sareng sami nenten nganggen busana adat, Iraga sareng sami pacang karasayang kirang patut ngeranjing ka Pura olih anak sane lianan. Awinan punika, Iraga sareng sami sekadi umat Hindu Bali sane bakti ring agama lan budaya Hindu Bali, sepatutnyane nganggen busana adat Bali sane kedas, rapi, lan suci yening ngeranjing ka Pura. Tetujonne, nyaga etika mabusana tur nyaga mangda busana adat Bali tetep tileh asri. Inggih asapunika dharma wacana sane kaaturin titiang. Dumogi wenten pikenohnyane ring arsan sameton sami. Titiang nunas pangampura ring Bapak Guru lan timpal-timpal titiang sareng sami, yening wenten ring atur titiang sane nenten manut ring arsa sareng sami. Panguntat atur titiang, titiang sineb antuk parama shanty. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om
jenis jenis pidarta bahasa bali